Indonesia, 19 Agustus 2025 – Tren pariwisata global menunjukkan pergeseran signifikan ke arah destinasi alam dan perjalanan yang lebih berkelanjutan. Setelah masa pandemi yang panjang, masyarakat kini semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik, salah satunya melalui aktivitas luar ruangan yang lebih dekat dengan alam.
Menurut data yang dirilis oleh Global Travel Index 2025, pencarian dan pemesanan untuk destinasi wisata alam meningkat hingga 43% dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini terlihat jelas di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang memiliki kekayaan alam melimpah mulai dari gunung, hutan, pantai, hingga kawasan konservasi.
Perubahan Gaya Liburan Pasca Pandemi
Banyak pelancong kini menghindari keramaian dan lebih memilih tempat-tempat yang tenang serta memiliki udara segar. Ini merupakan respons alami dari masyarakat terhadap pengalaman lockdown dan pembatasan sosial yang menimbulkan kelelahan psikologis.
“Liburan ke alam terbuka seperti hiking, camping, dan eksplorasi desa wisata kini menjadi primadona. Orang ingin menyatu dengan alam untuk mendapatkan ketenangan dan penyegaran pikiran,” ujar Raka Putra, seorang travel blogger yang aktif mempromosikan ekowisata di Indonesia.
Lonjakan Kunjungan ke Destinasi Ekowisata
Beberapa kawasan wisata berbasis alam di Indonesia mengalami lonjakan kunjungan. Misalnya, kawasan Geopark Ciletuh di Sukabumi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, hingga kawasan Raja Ampat kembali menjadi incaran wisatawan lokal maupun internasional.
Pemerintah daerah pun turut mendukung tren ini dengan menyediakan fasilitas yang ramah lingkungan, seperti penggunaan energi surya di penginapan, pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, serta kampanye pelestarian budaya lokal.
Kesadaran Lingkungan Meningkat
Tidak hanya sekadar jalan-jalan, wisatawan kini lebih memperhatikan dampak lingkungan dari kegiatan mereka. Banyak yang mulai membawa peralatan pribadi, mengurangi limbah, hingga memilih operator tur yang menerapkan prinsip keberlanjutan.
“Traveling bukan lagi sekadar gaya hidup, tapi kini menjadi cerminan nilai pribadi. Kita harus bertanggung jawab terhadap jejak yang kita tinggalkan,” tambah Raka.
Digitalisasi dan Informasi Membuka Akses Lebih Luas
Ketersediaan informasi melalui platform digital turut mendorong popularitas destinasi yang sebelumnya belum banyak dikenal. Desa wisata seperti Nglanggeran di Yogyakarta atau Wae Rebo di NTT kini mendapatkan sorotan global berkat media sosial dan kampanye digital dari Kemenparekraf.
Pemerintah juga aktif mempromosikan program Work from Destination, yang menggabungkan konsep bekerja sambil liburan, untuk mendorong pergerakan ekonomi lokal tanpa merusak ekosistem.
Tantangan Ke Depan
Meski tren ini membawa dampak positif, tetap ada tantangan yang harus dihadapi. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara kunjungan wisatawan dan daya dukung lingkungan. Infrastruktur ramah lingkungan juga masih menjadi pekerjaan rumah di banyak daerah.
“Jika tidak dikelola dengan baik, wisata alam bisa rusak. Kita butuh kolaborasi antara pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat lokal,” kata Ibu Mariani, pengelola homestay di desa wisata Tana Toraja.