BeritaFinanceInternasionalPolitik

Ketidakpastian Global: Ketegangan Politik dan Gejolak Ekonomi Mengancam Dunia

23

Semuakabar.com – 19 Agustus 2025. Di tengah harapan pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19, dunia kini kembali dihadapkan pada beragam perdagangan global. Ketegangan geopolitik, inflasi global yang tak kunjung mereda, perubahan iklim ekstrem, hingga dinamika ekonomi digital menjadi isu-isu yang meramaikan diskusi internasional.

Seluruh benua, mulai dari Asia, Eropa, Amerika hingga Afrika, tengah bersiap menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya menguji ketahanan masing-masing negara, tetapi juga menuntut kolaborasi global yang konkret.

Ketegangan Politik Internasional Meningkat

Ketegangan antara negara-negara besar terus memanas. Hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali menjadi sorotan dunia, terutama setelah isu terkait Taiwan dan Laut Cina Selatan kembali mencuat. Amerika memperkuat wilayahnya di kawasan Indo-Pasifik, sementara Beijing menegaskan klaimnya atas wilayah yang dipersengketakan.

Di Eropa Timur, konflik antara Rusia dan Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sanksi ekonomi yang diberlakukan negara-negara Barat terhadap Rusia terus meluas, sementara Moskow semakin memperkuat aliansinya dengan beberapa negara di Asia dan Afrika.

“Dunia sedang berada dalam fase multipolaritas baru, di mana negara-negara besar saling bersaing untuk mempengaruhi geopolitik,” ujar Dr. Ayunda Pratama, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia. Ia menilai bahwa ketegangan ini berpotensi menghambat kerja sama global dalam menghadapi isu bersama seperti perubahan iklim dan krisis pangan.

Ekonomi Global Dihantui Ancaman Resesi

Dari sisi perekonomian, muncul pula perlambatan pertumbuhan global. Lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 berada di bawah ekspektasi awal. Beberapa negara maju mencatat pertumbuhan negatif pada kuartal pertama tahun ini, menandakan ancaman resesi yang nyata.

Inflasi menjadi momok di banyak negara. Harga pangan dan energi yang tinggi memukul daya beli masyarakat, terutama di negara berkembang. Di Indonesia sendiri, meskipun inflasi relatif terkendali, namun harga beberapa kebutuhan pokok masih mengalami kenaikan yang signifikan.

Bank-bank sentral di berbagai negara merespons dengan menaikkan suku bunga acuan, namun kebijakan ini juga menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pertumbuhan sektor riil, terutama UMKM yang sensitif terhadap bunga pinjaman.

“Inflasi global ini sangat dipengaruhi oleh geopolitik dan ketergantungan terhadap rantai pasok global. Indonesia harus memperkuat ketahanan pangan dan energi agar tidak terlalu terpengaruh gejolak global,” ujar Budi Santosa, ekonom senior dari LPEM UI.

Perubahan Iklim Kian Ekstrem

Selain faktor ekonomi dan politik, krisis iklim menjadi ancaman yang tak bisa diabaikan. Tahun 2025 tercatat sebagai salah satu tahun dengan suhu tertinggi secara global. Gelombang panas ekstrem melanda Eropa dan Amerika Utara, menyebabkan kebakaran hutan besar-besaran dan memakan korban jiwa.

Di sisi lain, beberapa wilayah di Asia dan Afrika mengalami banjir bandang akibat curah hujan yang ekstrem. Indonesia sendiri juga tidak luput dari dampak perubahan iklim. Sejumlah wilayah seperti Kalimantan dan Sulawesi menghadapi banjir berkepanjangan, sementara daerah lain mengalami kekeringan yang mengancam produktivitas pertanian.

PBB dalam laporannya baru-baru ini menyatakan bahwa tindakan kolektif untuk menekan emisi karbon masih jauh dari target yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Banyak negara dinilai masih terlalu lambat dalam transisi ke energi bersih.

“Tanpa langkah nyata dan cepat, kita akan menyaksikan bencana iklim yang lebih dahsyat dalam waktu dekat. Ini bukan lagi isu masa depan, tetapi sudah menjadi kenyataan,” tegas António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB.

Transformasi Digital dan Ancaman Siber

Di tengah tantangan tersebut, dunia juga menyaksikan transformasi digital yang semakin masif. Teknologi AI, blockchain, hingga Internet of Things (IoT) menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, kemajuan ini juga membawa tantangan baru berupa kejahatan siber dan penyalahgunaan data.

Baru-baru ini, sebuah serangan siber besar-besaran melumpuhkan layanan pemerintahan di sebuah negara Eropa, mengingatkan bahwa keamanan digital menjadi isu strategis yang perlu perhatian serius. Indonesia sendiri mencatat peningkatan jumlah kasus peretasan dan penipuan digital, terutama melalui media sosial dan aplikasi keuangan.

Pemerintah dan sektor swasta didorong untuk meningkatkan sistem keamanan digital mereka. Literasi digital masyarakat juga menjadi hal penting, mengingat masih banyak pengguna internet di Indonesia yang belum memahami cara melindungi data pribadi mereka.

“Di era digital, ancaman tidak selalu datang dari senjata, tetapi dari jaringan,” kata Arya Prakoso, pakar keamanan siber dari Cybersecurity Forum Indonesia.

Solidaritas dan Kerja Sama Global Sangat Dibutuhkan

Dengan berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan, banyak pihak menilai bahwa kerja sama internasional menjadi kunci dalam menyelesaikan permasalahan global. Namun, fragmentasi politik dan persaingan antar kekuatan besar sering kali menghambat upaya tersebut.

Pertemuan G20 yang baru saja diadakan di Tokyo menekankan pentingnya multilateralisme dan inklusivitas dalam menangani isu-isu global. Negara-negara anggota G20 sepakat untuk memperkuat sistem kesehatan global, mempercepat transisi energi bersih, dan menjaga stabilitas keuangan internasional.

Presiden Indonesia yang hadir dalam pertemuan tersebut, mencerminkan agar negara-negara maju membantu negara berkembang melalui transfer teknologi dan pembiayaan yang adil.

“Kita tidak bisa menyelesaikan krisis global dengan egoisme nasional. Dibutuhkan solidaritas dan kepercayaan bersama,” ujar Presiden dalam pidatonya.

Harapan dan Tantangan bagi Indonesia

Sebagai negara berkembang dengan populasi besar, Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluang di tengah dinamika global ini. Ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, kesiapan menghadapi bencana iklim, hingga transformasi digital menjadi agenda penting pemerintah.

Di sisi lain, posisi Indonesia yang strategis di Asia Tenggara dan keterlibatannya dalam forum internasional seperti G20 dan ASEAN menjadi modal penting dalam membangun diplomasi global yang aktif dan konstruktif.

Para pengamat menilai bahwa Indonesia perlu terus memperkuat institusi demokrasi, tata kelola pemerintahan, serta kualitas sumber daya manusianya untuk bisa bersaing di kancah internasional.

Penutup

Dunia saat ini tengah mengalami masa yang tidak menuntu. Namun di tengah tantangan besar, selalu ada peluang untuk bangkit dan memperbaiki keadaan. Ketika kerja sama internasional diperkuat, solidaritas antar bangsa ditumbuhkan, dan semangat inovasi dijaga, harapan akan masa depan yang lebih baik tetap menyala.

Indonesia, dengan segala potensinya, bisa menjadi kekuatan baru yang membawa keseimbangan dan kontribusi nyata di dunia yang sedang bergejolak ini.

Exit mobile version